Jago Lagu
Jago Lagu

Info Terkini, Basuni Lestarikan Bahasa Jawa dengan Karya Sastra, Kenalkan Nilai Moral ke Generasi Millenial

Info Terkini, Basuni Lestarikan Bahasa Jawa dengan Karya Sastra, Kenalkan Nilai Moral ke Generasi Millenial

Info Terkini, Basuni Lestarikan Bahasa Jawa dengan Karya Sastra, Kenalkan Nilai Moral ke Generasi Millenial (Radartulungagung)

Tulungagung – Minimnya literasi dengan menggunakan bahasa daerah menyentuh hati Basuni. Pria berusia 56 tahun tersebut mengambil peran dengan menuliskan cerpen menggunakan bahasa Jawa, agar bahasa daerah tetap lestari pada kalangan generasi milenial. Bahkan, karya tulis Basuni dapat menembus majalah-majalah besar di Jawa. Dia trenyuh ketika dihadapkan dengan fakta minimnya literasi menggunakan bahasa Jawa. Padahal, dalam bahasa Jawa terdapat paparan nilai moral dan budi pekerti yang sarat akan nilai luhur dari kebudayaan lokal. Menurut dia, berbahasa Jawa dengan benar secara tidak langsung mengajarkan unggah-ungguh dalam bersikap. “Sekarang itu sudah minim sekali literasi-literasi menggunakan bahasa Jawa. Padahal dalam bahasa Jawa sendiri terdapat nilai moral serta budi pekerti luhur,” jelasnya kemarin (1/2).

Penggunaan bahasa tutur pada bahasa Jawa memiliki tiga golongan. Yaitu, bahasa Jawa ngoko, bahasa kromo inggil, dan bahasa kromo alus. Menurutnya, penggunaan ketiga golongan bahasa Jawa tersebut dibedakan oleh usia lawan bicara. Dari situ saja, tergambar jelas bagaimana nilai moral yang diajarkan melalui penggunaan bahasa Jawa. “Misalnya, kita sedang berbicara dengan teman seumuran, itu pakai bahasa Jawa ngoko. Kemudian, apabila kita berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita, itu pakai bahasa Jawa kromo. Lalu, jika berbicara dengan orang tua kita, itu pakai kromo alus. Dari perbedaan itu saja sudah tergambar nilai moral atau unggah-ungguh yang diajarkan melalui bahasa Jawa,” paparnya.

Mengetahu hal itu, dia tidak tinggal diam. Dia memutuskan untuk mulai menulis cerpen dengan bahasa Jawa agar bahasa daerah tersebut dapat kembali eksis di generasi milenial. Perjalanannya dalam melestarikan bahasa daerah pun dimulai sejak 2019 silam. “Baru jalan empat tahun ini saya menulis cerpen menggunakan bahasa Jawa. Agar generasi sekarang tidak hilang Jawanya. Masak orang Jawa hilang Jawanya, kan lucu,” ungkapnya.

Pada awalnya, karya tulis yang dibuat ini ditampilkan begitu saja di media social (medsos) miliknya. Namun, seiring perkembangan waktu, dia mulai mengenal berbagai relasi yang mengantarkan karya tulisnya pada majalah-majalah ternama di tanah air. “Ada salah satu teman saya namanya Jayus PT, itu sastrawan kondang yang juga menulis menggunakan bahasa Jawa. Dari situ, barulah petualangan karya tulis saya bisa melalang buana. Kalau di bahasa Indonesia itu namanya cerpen, kalau bahasa Jawa namanya cercak (cerita cekak). Tulisan saya berhasil dimuat di Joko Lodhang dan Jayabaya,” ucapnya.

Cerpen yang ditulis sebenarnya hanya dari dua ragam jenis. Meliputi cerita kehidupan sehari-hari serta cerita-cerita satir. Tidak ada kesulitan berarti dalam menuliskan cerpen berbahasa Jawa tersebut. “Ya kehidupan sehari-hari dan cerita-cerita satir, judulnya seperti ‘Baliho Tengah Sawah’. Tidak ada kesulitan. Hanya, kalau anak generasi sekarang itu yang mau memulai menulis bahasa Jawa kesulitan dengan ejaannya,” paparnya. Dengan menuliskan cerpen berbahasa Jawa itu, dia berharap agar bahasa daerah utamanya bahasa Jawa dapat eksis di kalangan kawula muda. Tak hanya itu, dengan eksisnya bahasa Jawa dapat mengajarkan nilai-nilai luhur dari bangsa ini. “Semoga bahasa daerah terutama bahasa Jawa bisa eksis di kalangan muda-mudi. Secara tidak langsung, mereka juga akan mengerti bagaimana moral atau unggah-ungguh dari bangsa ini,” tutupnya. (*/c1/din)


Hits: 2198x


BERITA MENARIK

Update Terbaru, Linda Pemasok Sabu Teddy Minahasa Ditangkap Polisi