Jago Lagu

Tahukah Kamu? Pernah Dibangun di Sekitar Pasar Wage, Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Kini Berusia 156 Tahun

Tahukah Kamu? Pernah Dibangun di Sekitar Pasar Wage, Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Kini Berusia 156 Tahun

Tahukah Kamu? Pernah Dibangun di Sekitar Pasar Wage, Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Kini Berusia 156 Tahun (Radartulungagung)

KabarTulungagung.my.id - TULUNGAGUNG – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjoe Tik Kiong merupakan tempat paling penting pada perayaan Imlek. Sebab di tempat inilah masyarakat Tionghoa memohon keselamatan dan mengungkapan rasa syukur serta harapan akan rezeki pada tahun yang akan dilewati.

Mengulik terkait bangunan TITD atau kelenteng ini dapat disebut salah satu bangunan cagar budaya di Kota Marmer. Bangunan dengan arsitektur kuno khas Tiongkok dan berwarna merah ini memiliki usia lebih dari 156 tahun. Tahun ini diketahui dari tahun revitalisasi TITD Tjoe Tik Kiong. Itu artinya, TITD Tjoe Tik Kiong sebenarnya dibangun jauh sebelum tahun 1866.

“Dibangun di sini (Jalan WR. Supratman Nomor 10, Kampungdalem, Red) itu tahun 1866. Nah sebelum itu kelenteng ini pernah berdiri di sekitar pasar Wage sana,” kata Bioma atau pelayan umat di TITD Tjoe Tik Kiong, Tjio Jin Jin, kemarin.


Dia menjelaskan, ada banyak ungkapan pengurus memindah kelenteng di posisi sekarang. Yakni dinilai lebih strategis dan juga lebih luas yaitu berdiri di lahan sekitar 6000 meter persegi. Selain itu, bangunan kelenteng ini dapat menghadap langsung ke arah Sungai Ngrowo. Di mana di balik posisi itu, ada makna simbolisnya dalam keyakinan orang Tionghoa.

Yaitu, Dewa yang dipuja, Mak Co merupakan Dewi Pelindung Lautan dan pelindung dari etnis Tiongkok di wilayah selatan serta imigran di Asia Tenggara. Sehingga, warga Tionghoa meyakini dengan menghadap sungai, Mak Co akan memberikan keselamatan bagi umatnya.

“Untuk detailnya tahun berapa di pasar Wage saya belum dapat menyebutkanya. Namun yang pasti, kelenteng ini dibangun untuk keperluan peribadatan masyarakat Tiongkok yang datang ke Tulungagung,” tuturnya.

Tjio Jin Jin yang juga memiliki nama Rini Setiawati ini bercerita awal kelenteng Tjoe Tik Kiong pernah kebanjiran. Karena lokasi kelenteng dulunya rawa. Oleh sebab itu, pihak pengurus menjalani revitalisasi dengan meninggikan dasar bangunan setinggi 2 meter.

Bahkan untuk mengenang sejarahnya, ditandakan pada gerbang depan Shan men berupa dua ekor ikan berkepala naga saling berhadapan yang mengapit Huo Zhu yang merupakan mutiara bola api milik Sang Buddha. Selain itu juga menambah hiasan ikan di tepinya, yang menunjukkan bahwa di tempat kelenteng berdiri dulunya terdapat banyak ikan.

“Semua ornament ini asli dari Tiongkok. Termasuk ornament di dalam, sesuai naga hingga burung phoenix serta lukisan dinding menceritakan sejarah Sidartha Gautama, yang merupakan pengembara dan menyebar ajaran agama Budha juga asli dari sana,” terangnya.

Wanita itu menjelaskan TITD Tjoe Tik Kiong memiliki beberapa ruang persembahyang. Dimulai dari depan, akan disambut tempat membakar hio lengkap dengan lilin (berbagai ukuran). Bahkan diruang pertama ini disambut berbagai ornament menarik, yakni di bagian tengah terdapat pagoda yang diiringi oleh dua Huo Zhu dan dua Xing Long (naga berjalan).

Di situ pula terdapat sebuah altar yang merupakan tempat sembahyang kepada Hok Tek Tjeng Sien (Dewi Bumi) dan Ka Lam Ya (Malaikat Pintu versi Budha). Ka Lam Ya terletak di daun pintu bersama Wie Tho. Ka Lam Ya sendiri digambarkan sebagai sosok berpakaian perang dengan membekali kampak, sedangkan Wie Tho digambarkan sebagai sosok berpakaian perang dengan membekali gada penakluk iblis.


“Keduanya ini sama-sama pelindung bangunan suci,” katanya.

Selanjutnya, ruang kedua berada di bagian tengah. Di ruang tersebut biasa dilakukan untuk sembahyang kepada Kwan She Im Pho Sat (Dewi Welas Asih), Kong Tek Cun Ong (Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah) dan Co Su Kong (Dewa yang berwajah hitam dari Cadas Air Jernih). Sedangkan, ruang ketiga terletak di bagian belakang merupakan tempat kebaktian. Di tempat inilah yang menjadi altar utama dari Dewa Mak Co.

“Di sini juga ada banyak patung dewa milik umat. Namun sebelum dititipkan sini, harus minta izin dulu pada para dewa dengan Pa Pue,” tuturnya.

Perempuan berambut sebahu ini menyebut kelenteng Tulungagung termasuk tertua. Bahkan warga Tionghoa yang beribadah di TTID Tjoe Tik Kiong bukan hanya asal Tulungagung, melainkan ada dari Trenggalek dan Blitar.

“Meski perayaan tahun ini sederhana, akan tetapi diharapkan tidak mengurangi khidmat perayaan Imlek tahun ini. Semoga tahun macan air ini memberi keberuntungan dan keselamatan,” tandasnya. (lil/din)

 


Hits: 68x


BERITA MENARIK

Ternyata Gratis, Siapa pun Boleh Ambil Kebutuhan Dapur di Jalanan Desa Gebang Tulungagung